Zain Usman 00.46 1
Pendahuluan

Kepemimpinan adalah sebuah konsep yang merangkum berbagai segi dari interaksi pengaruh antara pemimpin dengan pengikut dalam mengejar tujuan bersama. Seorang pemimpin harus mampu membuktikan diri dalam mempengaruhi sikap dan tingkah laku orang lain. Usaha mempengaruhi ini merupakan watak dasar yang menjadi modal utama dalam konsep kepemimpinan. Ia melekat dalam pribadi seorang pemimpin, yang memungkinkannya secara sadar atau tidak memotivasi orang lain untuk mengikuti kehendaknya.

Membangun sikap sebagai pemimpin berarti juga membangun sebuah kesadaran diri bahwa segala tingkah laku dan perbuatan seorang pemimpin akan ditiru dan menjadi landasan bagi orang lain dalam bersikap dan bertingkah laku. Untuk itu, kemampuan seorang pemimpin untuk membawa diri dan membangun citra diri yang positif di mata orang lain menjadi suatu yang mutlak. Untuk mampu membangun citra diri yang positif tersebut, seorang pemimpin memerlukan sebuah “media” yang efektif untuk mengkomunikasikannya. Media tersebut adalah komunikasi itu sendiri, baik komunikasi verbal maupun non verbal.

Kemampuan “bermain” kata-kata (retorika) merupakan prasarat lain seorang pemimpin. Tentu saja, dalam berkomunikasi diperlukan sebuah metode komunikasi yang efektif agar pesan-pesan yang ingin disampaikan tidak disalahartikan oleh orang lain. Komunikasi yang efektif sangat penting bagi seorang pemimpin terutama untuk meningkatkan kemampuannya dalam memimpin. Untuk itu, penguasaan teknik-teknik komunikasi dengan baik merupakan conditio sine qua non bagi seorang pemimpin, yang akan membantunya untuk menjadi seorang pemimpin yang diidamkan setiap orang. Selain itu, kemampuan retorika mutlak harus dikuasai oleh seorang pemimpin karena ia perlu berkomunikasi dengan pengikutnya untuk membantu mereka memahami visi yang ingin dicapai, berbagi informasi mengenai pencapaian dan bagimana mereka dapat berkontribusi untuk mencapai hasil yang lebih baik.

Kepemimpinan yang Amanah

Hal yang paling mudah dikenali dari seorang pemimpin yang amanah adalah dari sikap dan perilakunya. Seorang pemimpin yang amanah paling tidak menunjukkan tiga hal berikut dalam setiap perbuatan dan tingkah lakunya. Ketiga hal tersebut adalah sebagai berikut :

I. Berwibawa

Kewibawaan seorang pemimpin tercermin pembawaannya yang dapat diandalkan karena ia memiliki kematangan secara emosi. Seorang pemimpin dapat diandalkan janji-janjinya terhadap apa yang dilaksanakannya. Ia bersedia bekerja ikhlas dengan menyebarkan sikap ”enthusiasme” kepada semua orang. Ia mengetahui apa yang akan dilakukan dan menyadari apa yang ingin dicapainya sekarang dan yang akan datang. Pemimpin yang berwibawa mampu membawa diri dengan beragam situasi dan kondisi. Ia mampu memahami secara baik karakter berbagai pribadi meski ia tidak sepenuhnya mengerti.

Pemimpin berwibawa mampu menyesuaikan diri dengan berbagai kelompok dan juga memiliki kemampuan untuk berhadapan dengan orang-orang dari berbagai kalangan serta mampu melakukan konversasi tentang berbagai subjek. Dengan sifat demikian, orang lain biasanya mengakui dan menempatkan seorang pemimpin lebih kepada kepribadiannya dan bukan apa yang dilakukannya sebagai seorang pemimpin.

Kewibawaan juga terkait dengan kepercayaan. Hal ini dapat dipahami dari dimensi karakter seorang pemimpin. Seorang pemimpin yang memiliki karakter kepemimpinan yang kuat berarti juga memiliki ”daya” kepercayaan yang tinggi dalam dirinya. Kepercayaan tersebut lahir dari karakter dan kepribadiannya, bukan semata karena ia sebagai pemimpin.

Dimensi karakter biasanya menentukan seberapa jauh seorang pemimpin memperoleh kepercayaan dari dari orang lain atau pengikutnya. Kepercayaan tidak muncul begitu saja, melainkan terbentuk dari suatu proses dan muncul setelah orang lain mengujinya. Keberhasilan seorang pemimpin meraih kepercayaan tersebut sangat ditentukan oleh karakter seorang pemimpin. Karakter yang dimiliki sangat dekat dengan kekuatan seorang pemimpin dalam memiliki etos kerja. Semakin tinggi mutu klarakter dan etika kerja seorang pemimpin, semakin cepat dan tinggi pula kepercayaan yang dicurahkan orang lain kepadanya.

II. Memimpin dengan efektif

Tidak semua pemimpin dapat mencapai tujuan organisasi. Sebagai pemimpin malah membawa kemunduran untuk organisasi yang dipimpinnya. Pemimpin struktural dan pemimpinan relasional yang efektif memiliki sejumlah karakteristik. Berikut ini adalah sejumlah karakteristik yang perlu dimiliki orang yang ingin jadi pemimpin efektif.

Pertama, memiliki visi ke depan

Kepemimpinan yang efektif dimulai dari visi yang jelas. Visi yang jelas dapat secara dahsyat mendorong terjadinya perubahan dalam organisasi. Seseorang pemimpin adalah seorang inspirator perubahan dan visioner, yaitu memilki visi yang jelas ke mana organisasinya akan menuju. Tanpa visi, kepemimpinan tidak akan ada artinya sama sekali. Selain memiliki visi, seorang pemimpin juga harus memilki kemampuan untuk mengimplementasikan visi tersebut ke dalam suatu rangkaian tindakan atau kegiatan yang diperlukan untuk mencapai visi itu.

Kedua, cakap secara teknis

Seorang pemimpin tidak harus menguasai tugas pengikutnya secara rinci. Akan tetapi, pemimpin yang baik harus memiliki kecakapan teknis yang berkaitan untuk mencapai tujuan. Misalnya, untuk membangun sebuah gedung tinggi, tentunya dibutuhkan pemimpin proyek yang memilki kecakapan dan pengalaman teknis di bidang tersebut. Tidak mungkin proyek tersebut dipimpin lulusan Sarjana Politik yang belum pernah terlibat sama sekali dalam proyek konstruksi bangunan.

Ketiga, membuat keputusan tepat

Seorang pemimpin harus dapat menyelesaikan masalah dengan membuat keputusan yang tepat. Untuk memutuskan sesuatu, dibutuhkan informasi yang akurat serta perencanaan yang jelas mengenai aktivitas organisasi.

Empat, berkomunikasi dengan baik

Pemimpin harus memastikan setiap deskripsi tugas dimengerti, dilaksanakan, dan diawasi. Setiap perkembangan yang penting perlu dikomunikasikan dengan elemen organisasi agar timbul rasa memiliki. Selain yang berkaitan dengan pekerjaan, pemimpin juga harus dapat menggunakan kemampuan komunikasinya untuk membangun hubungan interpersonal dengan bawahan maupun pihak manajemen.

Lima, memberikan keteladanan dan contoh

Kata-kata tidak akan memiliki kekuatan bila orang yang mengucapkannya melakukan hal yang berlawanan. Pemimpin yang baik tidak saja memberikan arahan, tetapi juga memberikan keteladanan dan contoh yang baik. Seorang pemimpin juga perlu bersikap rendah hati, realistis, dan ramah. Pemimpin yang dianggap menyebalkan tentunya akan sulit untuk mendapatkan penghargaan dari anggotanya.

Enam, mampu mempercayai orang

Tak peduli seberapa hebatnya seorang pemimpin, tetap saja ia tidak akan mampu mengerjakan suatu tugas yang besar dan kompleks sendirian. Seorang pemimpin yang baik, harus dapat menilai kemampuan orang dan mendelegasikan tugas berdasarkan hasil penilaian itu. Ia tidak akan dapat mendelegasikan tugas bila tidak mempercayai orang lain. Oleh karena itu, pemimpin harus dapat mempercayai orang lain tanpa kehilangan kewaspadaan.

Tujuah, mampu menahan emosi

Pemimpin yang baik perlu memiliki kemampuan menahan emosi. Bukan sekedar hanya menghindari marah-marah yang tidak beralasan, tetapi juga harus mampu menyembunyikan kepanikan dan kekhawatiran dalam menghadapi masalah. Secara psikologis, bila pemimpin terlihat panik, anak buahnya pun cenderung untuk ikut panik.

Delapan, tahan menghadapi tekanan

Pemimpin yang baik harus tahan menghadapi tekanan. Banyak orang berpikir bahwa menjadi pimpinan itu menyenangkan karena tinggal menyuruh saja. Padahal, tekanan terbesar untuk berhasil, berada di pundak pemimpin. Bila pemimpin tidak tahan menghadapi tekanan, ia akan membuat kesalahan-kesalahan fatal yang menggiring pada kegagalan.

Sembilan, bertanggung jawab

Ketika keputusan sudah diambil, semua pihak dalam organisasi harus mendukungnya. Bila ternyata keputusan yang diambil berdampak buruk, maka pemimpin tersebut harus berani bertanggung jawab dan tidak sekedar melemparkan masalah pada orang lain. Tanggung jawab bukan hanya berarti mengakui kesalahan, tetapi juga memberikan solusi dari permasalahan tersebut.

Sepuluh, mengenali anggota

Seorang pemimpin perlu mengenali lebih dari sekedar nama para anggotanya. Pemimpin juga perlu mengetahui kemampuan dan karakter dari anggotanya sehingga tiap orang ditempatkan pada posisi yang tepat dan saling bersinergi.

Sebelas, cekatan dan penuh inovasi

Dalam menghadapi peluang dan ancaman, seorang pemimpin yang baik perlu memilki sifat cekatan serta berani berinovasi. Maksudnya, pemimpin harus sigap terhadap perubahan situasi dan memanfaatkan peluang-peluang yang ada dengan sumber daya yang tersedia.

III. Bijak mengambil keputusan

Kemampuan dalam mengambil keputusan secara cepat dan tepat bagi seorang pemimpin merupakan wujud aktualisasi adil dalam bertindak. Mengambil keputusan merupakan hal terpenting dan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari seorang pemimpin. Bahkan terkadang, keputusan-keputusan yang ia ambil tersebut mampu membangun kewibawaannya sebagai pemimpin. Untuk itu, seorang pemimpin perlu menguasai tiga varian dalam mengambil keputusan.

Pertama, direktif

Pengambilan keputusan berdasarkan sangat sedikit (bahkan tidak sama sekali), masukan dari orang lain. Kelebihan dari model ini, proses pengambilan keputusan dapat dilakukan relatif cepat. Model ini sesuai bila pemimpin adalah orang yang benar-benar telah berpengalaman dan pernah menghadapi situasi serupa. Di sisi lain, patut dipertimbangkan bahwa kondisi nyata berubah sangat cepat. Solusi yang persis sama belum tentu sesuai untuk keadaaan yang berbeda.

Dua, partisipatif

Semua pengikut memberikan masukan dalam diskusi dan proses pembuatan keputusan. Model ini mengakomodasi sumbangan pikiran dari semua yang terlibat dalam pekerjaan besar tertentu. Akan tetapi, untuk menggunakan cara ini dibutuhkan kepemimpinan yang sangat kuat karena ada kemungkinan berbagai pihak akan bersilang pendapat sehingga proses pengambilan keputusan berlarut-larut dan tidak efektif.

Tiga, konsultif

Merupakan kombinasi dari dua model dua model sebelumnya di mana pemimpin hanya meminta masukan mengenai hal-hal yang diduskusikan. Keputusan yang bersifat strategis (berpengaruh sangat besar dan menyangkut pencapaian visi) dilakukan oleh pemimpin. Model ini sesuai bila ingin mengefektifkan waktu pengambilan keputusan.

Pemimpin yang Amanah sebagai Teladan

Pemimpin adalah teladan. Untuk menjadi teladan, seorang pemimpin yang amanah perlu jujur dalam berucap, sederhana dalam bertindak, tegas dalam bersikap, adil dalam memutuskan perkara, dekat dengan semua orang (kawan maupun lawan), bersih dari image negatif, cepat dan tepat dalam mengambil keputusan, mampu merealisasikan apa yang diucapkan/dijanjikan, jauh dari sifat egosentris dan yang tak kalah penting adalah berjiwa besar terutama dalam hal mengakui kekurangan dan kelemahan diri. Terkait dengan point terakhir, dengan berjiwa besar, mengakui kekurangan dan kelemahan dirinya, seorang pemimpin akan lebih membuka diri terhadap masukan dan kritik dari orang lain, tanpa kehilangan jati diri dan pendiriannya.

Pemimpin yang amanah juga merupakan pemimpin yang bersih. Ia tidak mudah dan tidak akan pernah perpengaruh oleh berbagai godaan, terutama godaan yang bersifat materi dan kemilauan. Materi dan kemilaun adalah dua hal yang selalu melekat dalam diri seorang pemimpin. Di satu sisi ia adalah racun, namun di sisi lain ia menjadi madu. Amanah tidaknya seorang pemimpin terletak pada bagaimana ia memahami materi dan kemilauan itu, apakah materi dan kemilauan itu akan “meracuni’-nya atau justru menjadi penyelamatnya (madu).

Tugas kepemimpinan yang diembankan seorang pemimpin adalah sifat dasar yang amanah. Dengan memiliki sifat yang amanah, seorang pemimpin dapat menjalankan tugas`dan tanggung jawabnya dengan baik, secara lebih mudah, efektif dan efisien dengan mengutamakan kepentingan bersama dibanding kepentingan pribadi atau golongan. Kegagalan menjaga sifat amanah adalah awal kehancuran diri dan para pengikutnya. Ini adalah indikasi kehancuran sebuah organisasi yang dipimpinnya, atau bahkan kehancuran sebuah negara jika ia adalah pemimpin sebuah negeri.

Ciri khas yang membedakan seorang pemimpin dari orang awam adalah ia lebih mengutamakan kepentingan dan keselamatan sebanyak mungkin orang daripada kepentingan dan keselamatan dirinya, tanpa diskriminasi. Bahkan ia dapat berkorban secara sadar untuk kepentingan orang banyak. Ia lebih menempatkan dirinya sebagai makhluk sosial yang dalam dirinya juga melekat kewajiban-kewajiban sosial terhadap sesama. Karenanya, aktualisasi diri dan ketenangan dirinya hanya dapat tercapai jika memenuhi kewajiban-kewajiban sosial tersebut secara baik. Untuk itu, “warna” yang mencolok dari seorang pemimpin yang amanah dalam bersikap adalah ia lebih tenang dalam bersikap, meski nyawanya merasa terancam.

Penutup

Pemimpin yang amanah selain memiliki jiwa sosial yang tinggi, ia juga lebih tenang dalam bersikap. Ia tidak pernah takut terhadap apapun dalam menjalankan tugas yang diembannya. Hal ini memberikan pemahaman bahwa pemimpin yang amanah sangat berkaitan erat dengan sikap ketenangannya. Seorang pemimpin dalam menjalankan tugas kepemimpinannya berusaha menghindar untuk melakukan perbuatan yang bertentangan dengan ketentuan yang ada, atau nilai-nilai moral serta adat dan kebiasaan yang ada dalam masyarakat.

Dalam memimpin sebuah negeri misalnya, seorang pemimpin yang amanah harus benar-benar mampu menjalankan semua visi dan misi yang telah diproklamirkan sebelum terpilih menjadi pemimpin, karena umumnya kita terpanggil hati nuraninya untuk menentukan pilihan kepada seorang pemimpin tertentu karena diyakininya mampu menjalankan semua janji-janjiinya.

Zainudin, M.Si.
Badan Diklat Kementerian Dalam Negeri


Bahan Acuan

Badan Diklat Depdagri dalam Modul Kepemimpinan Pemerintahan Daerah, Mata Diklat Konsepsi Kepemimpinan Pemerintah Daerah, 2008.



“Pemimpin Yang Efektif” dalam http://nicedaysblue.web.id.

* Disusun sebagai bahan presentasi kelompok pada Diklat Calon Widyaiswara Badan Diklat Kemendagri bekerjasama LAN-RI pada Mei 2010.

Zain Usman 01.35
Disiplin menjadi kata kunci dalam membangun pondasi sebuah organisasi. Suatu organisasi akan mapan jika didukung oleh pegawai yang berdisiplin dan tidak ada satupun negara maju yang tidak disokong oleh warga negara yang berdisiplin. Ini adalah suatu komitmen yang harus kita bangun bersama untuk membawa kemajuan dan perubahan bagi masyarakat Indonesia pada umumnya. Oleh karena itu, aspek kedisiplinan harus menjadi jati diri dan dieksternalisasikan dalam kehidupan nyata, baik dalam lingkungan keluarga dan masyarakat maupun dalam lingkungan kantor satuan/unit aparatur pemerintah.

Melihat perkembangan situasi dan kondisi penyelenggaraan pemerintahan dalam negeri saat ini, dapat dipastikan masih memerlukan berbagai pembenahan. Untuk itu, pemerintah sebagaimana yang diamanatkan oleh konstitusi, memiliki tugas pokok dan fungsi (Tupoksi) untuk menyelesaikan berbagai urusan pelaksanaan Otonomi Daerah. Untuk mampu melaksanakan Tupoksi tersebut secara maksimal, pemerintah memerlukan sosok Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang tangguh dan berdisiplin tinggi.

Sebagai aparatur pemerintah, kita patut berbangga melihat perjuangan para pegawai senior yang telah berhasil membidani lahirnya paket Undang-Undang Otonomi Daerah beberapa tahun yang lalu, yang kemudian kita kenal dengan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999, yang selanjutnya direvisi menjadi Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Selain itu, juga lahir Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1999, yang kemudian direvisi menjadi Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah. Untuk mampu merealisasikan cita-cita yang terkandung dalam paket Undang-Undang Otonomi Daerah tersebut, pemerintah memerlukan energi yang jauh lebih besar, sehingga cita-cita luhur kita bersama untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat dapat segera kita nikmati.

Usaha mewujudkan amanat konstitusi tersebut sangat mendesak untuk diutamakan karena sempat terlintas dalam benak pemikiran banyak orang bahwa dengan lahirnya Undang-Undang tersebut, tugas pemerintah pusat akan semakin ringan. Persepsi yang demikian terbukti sangat keliru, karena Undang-Undang Otonomi Daerah tersebut, baik secara tersurat maupun tersirat, mengamanatkan tugas-tugas besar kepada pemerintah khususnya Kementerian Dalam Negeri. Akan tetapi, berkat kerja keras dan sinergitas antar komponen yang ada, maka dalam beberapa tahun belakangan ini sebagian dari tugas tersebut sudah berhasil diselesaikan dengan baik. Sebagian di antaranya telah dituangkan dalam bentuk Peraturan Pemerintah (PP) maupun Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri), meskipun sebagian lainnya masih memerlukan pengkajian dan penyempurnaan lebih lanjut. Semua itu merupakan wujud nyata keseriusan pemerintah untuk mensukseskan tercapainya tujuan nasional sesuai dengan amanat konstitusi UUD 1945, terutama untuk memberikan kesejahteraan kepada rakyat.

Beberapa tugas pokok yang mendesak untuk segera diselesaikan oleh pemerintah khususnya Kementerian Dalam Negeri, yang memerlukan pemikiran dan kerja keras aparatur di seluruh komponen, saat ini dapat difokuskan pada permasalahan berikut.

Pertama, belum terintegrasinya sistem perencanaan nasional, sektor dan daerah. Kedua, belum optimalnya kerjasama antar daerah. Ketiga, masih terjadi konflik dalam beberapa penyelenggaraan Pemilihan Kepala Daerah. Keempat, masih rendahnya mutu pelayanan yang diberikan Pemerintah Daerah. Kelima, belum optimalnya manajemen aset dan keuangan daerah. Keenam, belum optimalnya sistem administrasi kependudukan nasional. Ketujuh, belum optimalnya sistem pengawasan dan pembinaan atas penyelenggaraan Pemerintah Daerah. Kedelapan, belum kuatnya ketahanan lembaga ekonomi masyarakat desa. Kesembilan, belum optimalnya hasil penelitian dalam perumusan kebijakan penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. Terakhir kesepuluh, belum terintegrasinya sistem pengembangan karir pegawai dengan kebutuhan Pendidikan dan Pelatihan di lingkungan Kementerian Dalam Negeri dan Pemerintah Daerah.

Hal-hal tersebut hendaknya dapat dijadikan sebagai bahan pemikiran besar (grand thinking) bagi seluruh aparatur pemerintah, sekaligus wujud nyata tanggung jawab dan keterlibatan aparatur dalam tugas-tugas tersebut sesuai bidang tugas masing-masing sehingga kesejahteraan rakyat benar-benar terwujud secara merata, adil dan berkesinambungan.

Zainudin, M.Si.
Badan Diklat Kementerian Dalam Negeri

Artikel ini penulis susun sebagai bahan sambutan Bapak Menteri Dalam Negeri pada upacara penutupan Diklat Prajabatan Golongan II dan III bagi CPNS Kementerian Dalam Negeri di Badan Diklat Kemendagri pada tanggal 18 Mei 2010, dengan perubahan seperlunya.

Zain Usman 21.32
Rahasia panjang umur ternyata bisa sesederhana merekahnya sebuah senyuman. Semakin lebar senyum dan semakin dalam lipatan di sekitar mata Anda ketika tersenyum, semakin besar pula kemungkinan Anda untuk hidup lebih lama.

Kaitan antara senyum dan umur panjang ini diungkapkan oleh peneliti dalam riset yang dimuat di jurnal Psychological Science. Temuan baru ini menambah bukti lain bahwa hidup dengan kebahagiaan dan gembira memberi pengaruh kuat bagi kualitas kesehatan dan harapan hidup.

Peneliti percaya, lebarnya senyuman dan dalamnya kerutan di sekitar mata adalah cermin positif dari hidup seseorang yang dapat diterjemahkan dalam kesehatan jangka panjang yang lebih baik.

Kesimpulan ini merupakan hasil studi terhadap foto-foto berusia tua. Para ahli dari Wayne State University, Michigan, meneliti 230 gambar pemain liga bisbol yang dicetak dengan data registrasi tahun 1952. Daftar ini memuat semua profil dan statistik pemain, seperti tanggal lahir, berat, status perkawinan, dan karier.

Para ahli lalu membuat peringkat pemain berdasarkan bentuk senyuman. Ada kelompok pemain yang tak tersenyum sama sekali, tersenyum parsial (sebagian otot di sekitar mulut saja yang aktif), serta tersenyum lebar (ditandai tawa lepas dengan gigi yang tampak, pipi yang naik, dan lipatan di sekitar mata).

Foto-foto ini lalu dibandingkan dengan usia dan harapan hidup setiap pemain. Hasil analisis menunjukkan, 184 pemain tercatat sudah meninggal. Mereka yang masuk kategori "tanpa senyum" hidup dengan usia rata-rata 72,9 tahun.

Di antara kelompok "senyum parsial', harapan hidupnya rata-rata mencapai 75 tahun. Adapun mereka yang senyumnya paling lebar memiliki usia rata-rata 79,9 tahun atau tujuh tahun lebih panjang dari rekannya yang "jarang senyum".

Riset juga menemukan bahwa "senyuman palsu" tidak akan memberikan manfaat yang sama karena penambahan angka harapan hidup hanya terlihat pada pemain yang memiliki senyuman asli yang dikenal dengan Duchenne smiles.

Senyuman Duchenne mengaktifkan sekelompok otot di sekitar mulut dan mata. Istilah ini dimunculkan oleh seorang ahli saraf pada abad ke-19. Senyuman ini berbeda dengan senyum palsu yang hanya melibatkan otot di sekitar mulut.

Jadi mulai saat ini, tersenyumlah dengan lepas agar Anda tetap sehat dan panjang umur!

* Kompas.com

Zain Usman 18.17
Saat ini dalam dunia maya dan media elektronik televisi dihebohkan Informasi adanya “Sungai di Dasar Laut”. Cenote Angelita, Meksiko terdapat sebuah gua. Jika anda menyelam sampai kedalaman 30 meter, airnya air segar (tawar), namun jika anda menyelam sampai kedalaman lebih dari 60 meter, airnya menjadi air asin, lalu anda dapat melihat sebuah “sungai” di dasarnya, lengkap dengan pohon dan daun daunan. Benarkah terdapat sungai di bawah laut seperti yang dihebohkan itu ?

Seperti dilansir crystalkiss.com, di kedalaman lebih dari 30 meter tim penyelam menemukan air tawar di tengah kolom air laut. Kondisi itu berubah dan penyelam kembali menemukan air laut mulai melewati kedalaman 60 meter. Beberapa meter dari lokasi itu akan ditemukan sebuah gua. Di bagian bawah dekat gua itu tim penyelam menemukan sebuah sungai lengkap dengan pohon dan dedaunan yang mengapung di kolom air itu. Ternyata lokasi itu bukanlah sungai seperti yang terlihat di daratan. Dalam foto dan video yang beredar ternyata hasil gambat yang dihasilkan sangat menakjubkan. Keindahan alam di dalam foto dan video yang luar biasa tersebut bahkan sampai membuat heboh dan takjub berbagai orang yang melihatnya. Bahkan dalam videonya yang beredar tampak penyelam itu seperti terjun dan berenag di dalam sungai di dasar laut.

Secara keseluruhan, tim penyelam menemukan itu adalah kondisi yang sangat mengejutkan dan menakjubkan untuk dipandang. “Di kedalaman 60 meter saya menemukan kembali air laut. Saya melihat sebuah sungai, pulau, lengkap dengan daun yang berguguran. Tapi sungai yang kami lihat adalah lapisan dari gas hidrogen sulfida,” kata Anatoly.

http://playadelcarmentravel.travel/wp-content/uploads/2008/10/cenotes-in-playa-del-carmen.jpg

http://www.seamonkeybusiness.com/images/photosplaya/cenote_angelita_franco.jpg

Suasana di dasar laut itu itu memang mirip sungai lengkap dengan lapisan seperti air yang berwarna agak kecoklatan dengan pemandangan pepohonan di sekelilingnya. Sungguh sangat menakjubkan bila mengamati foto dan videonya. Tapi jangan percaya begitu saja, ternyata warna kecoklatan itu bukanlah berasal dari air tawar. Disebutkan, bagian kecoklatan yang mirip air sungai itu adalah lapisan bagian bawah gas hidrogen sulfida. Gas yang biasanya dihasilkan dari saluran pembuangan kotoran.

Namun tentu saja, itu bukanlah sungai biasa, itu adalah lapisan hidrogen sulfida, namun nampak seperti sungai. Biasanya gas itu terkumpul di dasar laut sampai mereka meledak dengan mendadak. Saat gas itu mencapai ke permukaan, kombinasi hidrogen dengan oksigen yang membentuk air membuat sulfur putih padat membentuk lapisan endapan ke dalam lautan,yang membuat hidrogen sulfida menjadi racun alami buat ikan,tapi pengaruh buruk bagi manusia masih belum jelas diketahui.

Mengapa hidrogen sulfida bisa berwujud sungai di dasar laut adalah karena pengaruh berat jenis zat tersebut. hidrogen sulfida memiliki berat jenis yang lebih berat dari pada campuran air laut (natrium sulfida, dll). Hal ini dpt dibayangkan seperti minyak dengan air dimana tingkatan berat jenisnya minyak, air tawar, air laut, dan baru campuran hidrogen sulfida diatas. hidrogen sulfida karena berat jenis yang lebih besar akan cenderung mengumpul didasar lautan. inilah yang tampak seperti alur sungai di atas.

Benarkah Sesuai Dalam Al Qu’ran

“Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan) ; yang ini tawar lagi segar dan yang lain masin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi.” (Q.S Al Furqan:53)

Jika Anda termasuk orang yang gemar menonton rancangan TV `Discovery’ pasti kenal Mr.Jacques Yves Costeau , ia seorang ahli oceanografer dan ahli selam terkemuka dari Perancis. Orang tua yang berambut putih ini sepanjang hidupnya menyelam ke perbagai dasar samudera di seantero dunia dan membuat film dokumentari tentang keindahan alam dasar laut untuk ditonton di seluruh dunia. Pada suatu hari ketika sedang melakukan eksplorasi di bawah laut, tiba-tiba ia menemui beberapa kumpulan mata air tawar segar yang sangat sedap rasanya kerana tidak bercampur atau tidak melebur dengan air laut yang masin di sekelilingnya, seolah-olah ada dinding atau membran yang membatasi keduanya.

Fenomena ganjil itu memeningkan Mr. Costeau dan mendorongnya untuk mencari penyebab terpisahnya air tawar dari air masin di tengah-tengah lautan. Ia mulai berfikir, jangan-jangan itu hanya halusinansi atau khalayan sewaktu menyelam. Waktu pun terus berlalu setelah kejadian tersebut, namun ia tak kunjung mendapatkan jawapan yang memuaskan tentang fenomena ganjil tersebut.

Sampai pada suatu hari ia bertemu dengan seorang profesor Muslim, kemudian ia pun menceritakan fenomena ganjil itu. Profesor itu teringat pada ayat Al Quran tentang bertemunya dua lautan ( surat Ar-Rahman ayat 19-20) yang sering diidentikkan dengan Terusan Suez . Ayat itu berbunyi “Marajal bahraini yaltaqiyaan, bainahumaa barzakhun laa yabghiyaan.. .”Artinya: “Dia biarkan dua lautan bertemu, di antara keduanya ada batas yang tidak boleh ditembus.” Kemudian dibacakan surat Al Furqan ayat 53 di atas.

Selain itu, dalam beberapa kitab tafsir, ayat tentang bertemunya dua lautan tapi tak bercampur airnya diertikan sebagai lokasi muara sungai, di mana terjadi pertemuan antara air tawar dari sungai dan air masin dari laut. Namun tafsir itu tidak menjelaskan ayat berikutnya dari surat Ar-Rahman ayat 22 yang berbunyi “Yakhruju minhuma lu’lu`u wal marjaan” ertinya “Keluar dari keduanya mutiara dan marjan.” Padahal di muara sungai tidak
ditemukan mutiara.

Terpesonalah Mr. Costeau mendengar ayat-ayat Al Qur’an itu, melebihi kekagumannya melihat keajaiban pemandangan yang pernah dilihatnya di lautan yang dalam. Al Qur’an ini mustahil disusun oleh Muhammad yang hidup di abad ke tujuh, suatu zaman saat belum ada peralatan selam yang canggih untuk mencapai lokasi yang jauh terpencil di kedalaman samudera. Benar-benar suatu mukjizat, berita tentang fenomena ganjil 14 abad yang silam akhirnya terbukti pada abad 20. Mr. Costeau pun berkata bahawa Al Qur’an memang sesungguhnya kitab suci yang berisi firman Allah, yang seluruh kandungannyamutlak benar. Dengan seketika dia pun memeluk Islam.

* http://korananakindonesia.wordpress.com

Zain Usman 02.49

Pemberlakuan Asean-China Free Trade Agreement (ACFTA) Tahun 2010 ini mengandung makna yaitu terciptanya pasar bersama bagi negara-negara Asia Tenggara dan China, termasuk di dalamnya Indonesia. Tentunya keterbukaan pasar ACFTA akan mendorong setiap negara anggota untuk memanfaatkan peluang pasar yaitu melalui peningkatkan daya saing.

Posisi daya saing Indonesia berdasarkan survey World Economic Forum tahun 2008 menduduki peringkat 55 dari 131 negara, menurun dari tahun 2007 yang menduduki peringkat 54 dari 122 negara. Parameternya terkait dengan masalah hukum, masalah kelembagaan (kekuasaan kehakiman yang merdeka, perlindungan hak atas kekayaan intelektual, efisiensi kerangka hukum, biaya bisnis akibat terorisme, tingkat kejahatan dan kekerasan, kejahatan terorganisir dan tingkat kepercayaan terhadap pelayanan polisi, kesiapan teknologi berupa hukum yang mengatur teknologi informasi dan komunikasi).

Sementara berdasarkan hasil studi International Finance Corporation (IFC) dan Bank Dunia (World Bank) tahun 2006 menunjukkan bahwa Indonesia menempati peringkat ke-115 dari 155 negara yang memiliki kemudahan berbisnis. Ini adalah peringkat global dan Indonesia masih menempati urutan bawah. Survey mencakup tujuh paket indikator iklim bisnis, yaitu memulai bisnis, mempekerjakan dan menghentikan pegawai, menetapkan kontrak kerja, mendaftarkan properti, memperoleh kredit, melindungi investor, dan menutup usaha.

Selanjutnya berdasarkan Laporan Doing Business pada tahun 2006 memperluas dengan penambahan tiga indikator baru, yaitu membayar pajak, lisensi usaha, dan perdagangan antarbatas negara. Indikator lain yang melemahkan posisi Indonesia adalah jumlah hari dan prosedur untuk menetapkan kontrak yang cukup lama, yaitu 570 hari dan 34 prosedur. Sementara itu, Malaysia hanya butuh 300 hari dengan 31 prosedur dan Singapura hanya 69 hari dengan 23 prosedur.

Dari laporan hasil survey di atas jelas menunjukkan bahwa posisi daya saing Indonesia masih cukup rendah di bandingkan dengan anggota ACFTA lainnya. Keadaan ini hendaknya menjadi bahan introspeksi bagi seluruh aparatur pemerintah terutama pemimpinnya baik di pusat maupun di daerah. Untuk memperbaiki daya saing nasional di Era ACFTA, maka pemimpin aparatur pemerintah dituntut untuk secepatnya menciptakan pemerintahan yang bersih (clean governance) menuju tata kelola pemerintahan yang baik (good governance). Untuk mewujudkan hal tersebut maka diperlukan political will pemerintah untuk secepatnya melakukan reformasi birokrasi.

Perlunya percepatan reformasi birokrasi di Era ACFTA saat ini antara lain dapat terindikasikan dari beberapa fakta di bawah ini : (1) Wajah birokrasi Indonesia selama ini di mata pelaku usaha/investor dinilai masih kurang pro pasar, pro bisnis, dan pro investasi. Melalui reformasi birokrasi diharapkan terjadi perubahan kultur birokrasi dari sebelumnya”ingin dilayani” menjadi ”ingin melayani”. Birokrasi yang efisien dan mendasarkan diri pada kultur melayani (service culture) akan sangat menentukan perbaikan peringkat daya saing Indonesia. (2) Menilik dari kondisi obyektif birokrasi saat ini, terdapat beberapa kelemahan yang memerlukan penataan kembali, dimana kelemahan tersebut bermuara pada sistem manajemen kepegawaian sejak proses rekruitmen, pengembangan personel, pengembangan karir, sistem penggajian (remunerasi), dan persiapan masa pensiun. Karena itu, semua sistem dalam manajemen birokrasi harus diperbaiki secara kontinu dan menyeluruh untuk menghasilkan wajah birokrasi yang efektif dan efisien yang bertumpu pada layanan prima kepada stakeholders.

Pertama, menyusun Postur birokrasi yang ideal yaitu memenuhi syarat profesionalitas, kompetensi, netralitas, dan pola karir yang berorientasi pada peningkatan kinerja dalam mewujudkan pemerintahan yang baik.

Kedua, memperbaiki sarana dan prasarana fisik (infrastruktur), seperti sarana transportasi, kelistrikan (power plant), sarana telekomunikasi (telepon) dan sarana air bersih. Program pembangunan infrastruktur yang tengah digalang pemerintah saat ini diharapkan dapat menjawab tuntutan para investor.

Ketiga, menyempurnakan kembali peraturan-peraturan di tingkat daerah (Perda) yang dinilai “bermasalah”. Perda-perda yang memiliki semangat memungut yang terlalu besar hendaknya dapat direview dan direvisi, disesuaikan dengan tuntutan investor tanpa harus mengorbankan kepentingan pemerintah daerah. Itulah upaya-upaya yang harus segera dilakukan pemerintah saat ini untuk memperbaiki posisi peringkat daya saing Indonesia.

Untuk mampu melakukan peran strategis, maka nilai-nilai kepemimpinan yang diperlukan aparatur pemerintah saat ini, antara lain adalah :

Pertama, kemampuan untuk menciptakan dan mewujudkan visi. Dalam posisi inilah skenario perencanaan menjadi suatu kebutuhan. Kunci dari skenario perencanaan adalah dialog. Dengan demikian maka benar apabila kita mengartikan kepemimpinan itu sebagai suatu ilmu sekaligus sebagai seni yang dapat merubah tantangan menjadi peluang serta hambatan menjadi kesempatan. Oleh karena itu, penguasaan ilmu saja tidak cukup bagi seorang pemimpin akan tetapi harus memiliki seni tersendiri yang harus dikembangkan dari dalam diri si pemimpin.

Dalam konteks inilah maka seringkali terjadi penafsiran yang berbeda mengenai konsep kepemimpinan. Pendapat yang mengatakan bahwa kepemimpinan adalah sesuatu yang dimiliki atau diraih atas sebuah posisi atau jabatan tertentu merupakan hal yang menyesatkan karena kepemimpinan bukanlah kedudukan, jabatan atau materi, melainkan sebuah amanah yang mencerminkan sebuah tanggung jawab.

Persepsi kepemimpinan sebagai hak milik tanpa kita sadari dapat membawa bencana bagi lembaga maupun si pemimpin. Persepsi seperti ini dapat berpotensi terhadap penyalahgunaan jabatan serta mendorong gaya kepemimpinan otoriter yang membentuk suatu hubungan yang saling bergantung atau saling memanfaatkan antara pemimpin dan yang dipimpin, yang akhirnya menciptakan peluang terjadi kolusi dengan bawahan. Ketergantungan semacam ini mengakibatkan satu sama lain tidak memiliki kekuatan untuk mewujudkan potensi diri mereka.

Implikasinya, hubungan antara pemimpin dengan yang dipimpin dapat diwarnai kepalsuan. Tidak digerakkan oleh misi tetapi oleh keinginan dan kepentingan pribadi semata. Padahal pemimpin yang efektif adalah pemimpin memperlakukan orang lain sebagai sahabat, menarik pengikut, memberi pengikut wewenang, memberi inspirasi, bersikap etis dan terbuka.

Kesadaran aparatur untuk menghapus pandangan bahwa kepemimpinan sebagai suatu hak milik sehingga paling tidak menghapus dua mitos menyesatkan yang sering mengorbit di seputar kepemimpinan yaitu : (1) Para pemimpin dan kualitas kepemimpinan hanya ditemukan di puncak organisasi dan puncak organisasi adalah satu-satunya tempat yang kita butuhkan. Jika mindset aparatur pemerintah demikian, bukanlah suatu hal aneh jika kita menghadapi masalah untuk memenangkan hiperkompetisi dengan negara-negara lain. Pemimpin puncak dalam suatu dinas, unit kerja, atau lembaga bukanlah satu-satunya pemimpin. Seluruh jajaran pemimpin pada setiap jenjang aparatur pemerintah dapat dan harus memiliki kepemimpinan. Karena itu sering muncul permasalahan di suatu birokrasi pemerintah lebih disebabkan banyak aparatur cenderung terlalu banyak dikelola ketimbang dipimpin. (2) Anggapan bahwa para pemimpin harus memiliki karisma. Kenyataannya berdasarkan studi Gerald L. McManis (2002) menunjukkan bahwa banyak eksekutif yang tidak memiliki karisma, namun mereka sukses dan dihormati.

Kedua, mengetahui dan memperkirakan perilaku atasan, bawahan maupun rekan sekerjanya dalam menggapai tujuan organisasi. Seorang pemimpin pertama sekali juga harus menyadari kekurangannya dan kemudian berusaha untuk memperbaikinya, baik dalam menjalin hubungan dengan lingkungannya maupun yang berkaitan dengan sumber daya sekitarnya. Di samping itu, seorang pemimpin harus suka dan lebih banyak mendengarkan, termasuk mendengarkan hal-hal yang tidak disenanginya.

Ketiga, dalam praktek, seorang pemimpin seringkali menghadapi pilihan yang berat dan menekan, khususnya tekanan untuk mengikuti keinginan dari pihak tertentu yang terkadang tidak sejalan dengan kepentingan organisasi. Dalam kondisi tersebut, seorang pemimpin diuji untuk mengambil keputusan yang menguntungkan pribadi atau keputusan yang menguntungkan lembaga. Jika pilihannya adalah keuntungan pribadi, maka sementara pemimpin akan selamat tetapi organisasi hancur dan akhirnya pemimpin ikut hancur. Jika pilihannya keuntungan lembaga, maka organisasi selamat tetapi pemimpinnya kemungkinan tidak lama, tetapi hal ini justru akan lebih baik. Dari gambaran tersebut disarankan bahwa pilihannya adalah buatlah keputusan yang menguntungkan organisasi. Tentu saja kita harus mampu menyisakan ruang-ruang bagi win-win solution (solusi sama-sama untung) dengan batas jangan sampai organisasi/lembaga yang menjadi korban.

Keempat, kepemimpinan yang baik dapat terwujud manakala pemimpin memiliki integritas, komitmen, dan kredibilitas sebagai panutan bawahan. Integritas merupakan landasan kepercayaan, bukan sekedar bahan kepemimpinan, namun lebih merupakan hasil kepemimpinan. Integritas yang berbuah kualitas yang tidak dapat diperoleh namun harus dimiliki. Melakukan apa yang telah ia katakan (satu kata dengan tindakan). Integritas diberikan oleh rekan sekerja dan anggota. Tanpa integritas, pemimpin tidak akan berfungsi. Karena itu seorang pemimpin yang ingin memiliki integritas maka dia harus mengenal diri sendiri, memiliki ketulusan dan kejujuran dalam berpikir dan bertindak, serta mempunyai kedewasaan. Kredibilitas dibangun atas dasar serangkaian keyakinan atau nilai yang dimiliki. Para pemimpin menjadi kredibel apabila mereka bertindak dengan cara-cara konsisten menurut nilai-nilai mereka.

Zainudin, M.Si.
Badan Diklat Kementerian Dalam Negeri

Disampaikan oleh Diah Anggraeni (Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri) pada pelaksanaan Diklatpim Tk. II Badan Diklat Provinsi Jawa Tengah di Semarang pada bulan Maret 2010.

Zain Usman 00.36
Mengacu kepada Undang-undang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Pokok-pokok Kepegawaian, tampak jelas bahwa profesionalisme PNS tidak lagi sekedar tuntutan akan tetapi sudah menjadi kewajiban bagi setiap pribadi PNS. Untuk menjadi PNS profesional, dituntut untuk : (1) senantiasa menciptakan dan menumbukan semangat dan motivasi kerja dalam upaya pencapaian prestasi kerja yang diharapkan; (2) menanamkan rasa mencintai dan memiliki suatu pekerjaan, karena dengan kecintaan terhadap pekerjaan akan melahirkan nilai tanggung jawab yang tinggi; (3) pegang teguh komitmen dan disiplin kerja guna mendorong terbentuknya etos kerja yang tinggi dalam rangka menghasilkan kualitas kerja yang memuaskan; (4) budayakan tertib kerja dengan selalu mengedepankan efisiensi, efektivitas waktu, sarana dan anggaran; (5) pahamilah tugas pokok dan fungsi (TUPOKSI) masing-masing dan pelajari secara seksama Peraturan Perundang-undangan yang berlaku; dan (6) senantiasa mencurahkan pikiran, ide, gagasan untuk kemajuan dan kepentingan kemaslahatan masyarakat, bangsa dan negara.

Penanaman lebih dini tentang nilai-nilai tersebut menunjukkan bahwa seorang PNS mampu mengenali dan memahami secara baik tugas dan tanggung jawab sebagai abdi bangsa dan negara, kemudian secara sadar mengaplikasikannya dalam pelaksanaan tugas masing-masing.

Diklat Prajabatan merupakan pintu gerbang bagi PNS untuk mulai meniti karir pengabdian terhadap bangsa dan negara. Untuk itu, kesadaran diri untuk terus meningkatkan pengetahuan dan keterampilan serta sikap dan perilaku menjadi suatu keharusan, terlebih tuntutan profesionalisme PNS saat ini diarahkan kepada agenda besar menuju reformasi birokrasi. Tuntutan profesionalisme PNS semakin nyata diperlukan mengingat semakin cepatnya arus perubahan masyarakat ke arah yang semakin dinamis.

Dalam menghadapi masyarakat yang semakin dinamis tersebut, birokrasi pemerintah perlu bergeser ke arah yang lebih dinamis pula agar mampu memberikan pelayanan secara cepat, tepat dan akurat sebagai konsekuensi logis dari masyarakat modern yang terbuka. Untuk mengemban tugas tersebut, maka seluruh SDM-Aparatur haruslah memiliki kecakapan kerja, memiliki etos kerja tinggi serta memiliki karakter abdi atau pelayan masyarakat.

Di sinilah pentingnya Diklat Prajabatan sebagai wahana awal untuk membekali CPNS kepada sebuah kesadaran baru tentang kedudukan dan posisi PNS sebagai abdi masyarakat, bangsa dan negara yang mengedepankan kewajiban dari pada hak. Dengan posisi tersebut, maka Undang-undang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Kepegawaian Negara menetapkan dan mensyaratkan bahwa sebelum pengangkatan seseorang menjadi PNS, maka kepadanya diberikan kedudukan sementara sebagai CPNS dengan batas waktu paling lama 2 (dua) tahun. Hal ini bertujuan agar setiap CPNS mempunyai kesempatan mempertimbangkan kembali apakah pilihan menjadi PNS benar-benar berdasarkan panggilan jiwa atau atas dasar motif lain. Selanjutnya setelah mantap meyakini pilihan tersebut barulah diangkat menjadi PNS yang didahului dengan pernyataan sumpah atau janji pengangkatan PNS.

Oleh karena itu, Diklat Prajabatan juga menjadi moment untuk merenungkan kembali tentang kesiapan diri CPNS dalam melaksanakan tugas-tugas PNS secara profesional, dilandasi oleh sikap dan perilaku serta mampu berperan sebagai perekat persatuan dan kesatuan bangsa dalam wadah NKRI.

Setelah Diklat Prajabatan berakhir, sesuai dengan sistem pembinaan dan pengembangan karier PNS, maka setiap PNS akan mendapatkan kesempatan yang sama untuk terus berkembang dan meniti karir. Untuk itu, kesempatan bagi PNS manfaatkan dengan sebaik-baiknya setiap peluang yang ada untuk mengembangkan potensi diri, agar kelak sebagai kader muda mampu melanjutkan dan mengoptimalkan tugas pokok masing-masing dalam berbagai bidang.

Zainudin, M.Si.
Badan Diklat Kementerian Dalam Negeri
Artikel ini penulis susun sebagai bahan sambutan Bapak Kepala Badan Diklat Depdagri pada pembukaan pelaksanaan Diklat Prajabatan bagi CPNS Kementerian Dalam Negeri di Bogor pada tanggal 17 Maret 2010, dengan perubahan seperlunya.

Zain Usman 20.38
Jenis2 Manusia di lihat dari status Facebook..
Thread pertama gw nie gan di jokes & cartoon..

1. Manusia Super Update
Kapanpun dan di manapun selalu update status. Statusnya tidak terlalu panjang tapi terlihat bikin risih, karena hal-hal yang tidak terlalu penting juga dipublikasikan.

Contoh : "Lagi makan di restoran A..", "Dalam perjalanan menuju
neraka..", "Saatnya baca koran..", dan sebagainya.

2. Manusia Melankolis
Biasanya selalu curhat di status. Entah karena ingin banyak diberi komentar dari teman-temannya atau hanya sekedar menuangkan unek-uneknya ke facebook. Biasanya orang tipe ini menceritakan kisahnya dan terkadang menanyakan solusi yg terbaik kepada yang lain.

Contoh : "Kamu sakitin aku..lebih baik aku cari yang lain..", "Cuma kamu yang terbaik buat aku..terima kasih kamu sudah sayang ama aku selama ini..".

3. Manusia Tukang Ngeluh
Pagi, siang, malem, semuanya selalu ada aja yang dikeluhkan.

Contoh : " Jakarta maceeet..!! Panas pula..", "Aaaargh ujan, padahal baru nyuci mobil..sialan. .!!", "Males ngapa2in.. cape hati gara2 si do' i..", dsb.

4. Manusia Sombong
Mungkin beberapa dari mereka ga berniat menyombongkan diri, tapi terkadang orang yang melihatnya, yang notabene tidak bisa seberuntung dia, merasa kalo statusnya itu kelewat sombong, dan malah bikin sebel.

Contoh : "Otw ke Paris ..!!", "BMW ku sayang, saatnya kamu mandi..aku mandiin ya sayang..", "Duh, murah-murah banget belanja di Singapur, bow,"

5. Manusia Puitis
Dari judulnya udah jelas. Status nya selalu diisi dengan kata-kata mutiara, tapi ga jelas apa maksudnya. Bikin kita terharu? Bikin kita sadar atas pesan tersembunyinya? atau cuma sekedar memancing komentar? Sampai saat ini, tipe orang seperti ini masih dipertanyakan.

Contoh : "Kita masing-masing adalah malaikat bersayap satu. Dan hanya bisa terbang bila saling berpelukan", "Mencintai dan dicintai adalah seperti merasakan sinar matahari dari kedua sisi", "Jika kau hidup sampai seratus tahun, aku ingin hidup seratus tahun kurang sehari, agar aku tidak pernah hidup tanpamu".

6. Manusia in English
Tipe manusianya bisa seperti apa saja, apakah melankolis, puitis, sombong dan sebagainya. Tapi dia berusaha lebih keren dengan mengatakannya dalam bahasa Inggwis Gicyu Low..

Contoh : "Tie and Chair..", "I can tooth, you Pink sun.." dsb..

7. Manusia Lebay
Updatenya selalu bertema 'gaul' dengan menggunakan bahasa dewa.. ejaan yang dilebaykan..

Contoh.." met moulnin all.. pagiiieh yg cewrah... xixiixi" << lol~

8. Manusia Terobsesi...
Mengharap tapi ga kesampaian.. pengen jd artis ga dapat-dapat.

Contoh : "duwh... sesi pemotretan lagi! cape..."

9. Manusia Sok Tau..
Sotoy tenarnya. Padahal dia sendiri tidak tahu apa yang ditulisnya.

Contoh : "Pemerintah selalu memanjakan rakyatnya.. bla..bla...bla,"

10. Bioskop Mania..
Update film yang abis ditonton dan kasih comment..

Contoh : "ICE AGE 3..Recomended! !", "Transformers 2 mantab euy.."

11. Manusia pedagang:

Contoh: "jual sepatu bla bla bla"

12. Manusia penyuluh masyarakat:

Contoh: "jangan lupa dateng ke TPS, 5 menit utk 5 tahun bla..bla"

13. Manusia Alay..
Ada berbagai macam versi, dari tulisannya yang aneh, atau tulisannya biasa aja, hanya saja kosakata nya ga lazim seperti bahasa alien.

Contoh:
Alay 1 : "DucH Gw4 5aYan9 b6t s4ma Lo..7aNgaN tin69aL!n akYu ya B3!bh..!!"
Alay 2 : "km mugh kog gag pernach ngabwarin aq lagee seech? kmuw maseeh saiangs sama aq gag seech sebenernywa? "
Alay 3 : "Ouh mY 9oD..!! kYknY4w c gW k3ReNz 48ee5h d3ch..!!"
(Khusus buat tipe ini, ga usah di baca juga gpp..saya pribadi juga mikir
dulu buat nulis ini, walaupun jadinya kurang mirip sama yg aslinya..)

14. Tipe Hidden Message
Tipe ini biasanya tidak to the point, tapi tentunya punya niat biar orang yg dituju membaca nya. (bagus kalo baca..kalo ngga? kelamaan nunggu) padahal kan bisa langsung aja sms ya..

Contoh : "For you my M***, I can' t live without you..you are my bla bla bla..",
"Heh, cewe bajingan..ngapain lo deket2in co gw?! kyk ga laku aja lo.." <<< (padahal ce tersebut tidak ada dalam jaringannya.. mana bisa baca...)

15. Tipe Misterius
Tipe yang biasanya bikin banyak orang bertanya tanya atas apa maksud
dari status orang tersebut..Biasanya dalam suatu kalimat membutuhkan
Subjek + Predikat + Objek + Keterangan. Tapi orang tipe ini mungkin
hanya mengambil beberapa atau malah hanya 1 saja..Dan pastinya
mengundang kontroversi.

Contoh : "Sudahlah.." , "Telah berakhir.." <<< (apanya??),
"Termenung.. ." <<< (so what gitu, loh)

Semoga gk hehehehe..

* Catatan fb seorang teman
Diberdayakan oleh Blogger.